Christmas in KL

Kuala Lumpur

Penang

Pilihan menghabiskan liburan Natal kali ini jatuh ke Kuala Lumpur. Anakku perempuan maunya ke Bangkok tapi agak  mahal tiketnya dari Jakarta ke Bangkok saat Natal untuk kami berempat. Jadi Kuala Lumpur menjadi pilihan yang lebih murah. Tiket Air Asia untuk bertiga sudah saya beli beberapa bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga yang lumayan miring . Tiket suami belum dibeli karena jadwal kerjanya yang tidak menentu, entah bisa cuti atau tidak. Pertimbangannya tiket untuk satu orang gampanglah di beli nanti.

Tepat tgl 25 Desember kami berangkat dari Soekarno Hatta airport langsung ke KLIA2 Kuala Lumpur, tanpa suami. Why? Karena unfortunately teman yang biasanya menggantikan suami  berhalangan, jadilah suami merayakan Christmasnya di tempat tugasnya dan kita pergi bertiga saja dan yang lebih sedih lagi tiket suami sudah dibeli 2 minggu sebelumnya dan kamar hotel sudah di booking untuk berempat. Anyway, itinerary 5 hari kami di Kuala Lumpur dan Penang sudah dibuat. Dua malam di KL, semalam di Penang balik lagi ke KL 2 malam. Hari pertama dan kedua kami menginap di daerah Brickfields, dekat KL Sentral. Hari ketiga di Penang, hari keempat dan kelima balik lagi di KL menginap di sekitar Petalling.

Day 1 (25 Des 2016)

Penerbangan dengan Air Asia ke KLIA2 jam 11.30 selama 2 jam, mengalami keterlambatan selama kurang lebih 30 menit jadi kita tiba di KL sekitar jam 3.00pm waktu setempat. Dari sini kita naik bus (Skybus) ke KL Sentral, RM12. The cheapest transportation from airport to KL Sentral. Beli tiketnya di level 1 exit door 3 perjalanan kira2 45 menit. Sampai di KL Sentral jalan kaki ke arah hotel kira2 5 menit, nama hotelnya MyHotel @Sentral2. Setelah proses check in dan beres-beres di kamar kita keluar cari makan di sekitar hotel. Kebanyakan resto2 Cina yang ada menu non halal, kebetulan kita penggemar menu ini heheheh. Selesai makan siang kesorean, naik bus gratis ke Pasar Seni dan dari sini ke Bukit Bintang dengan bus Purple Line yang juga gratis. Hmmmm mulai membandingkan dengan Jakarta nih….
Sampai di Bukit Bintang kita langsung menuju ke Pavilion yang terkenal itu, dua tahun yang lalu saya pernah makan di resto Vietnam kalau ngga salah di lantai 4 gedung ini. Tapi kali ini kita tidak makan disini karena kita baru saja makan di Brickfields tadi. Mall ini penuh sesak orang, terutama di lobby yang penuh dengan hiasan2 Natal yang sangat menarik pengunjung. Dan di depan mall banyak sekali orang foto-foto dengan latar belakang pohon Natal yang super gede dan air mancur raksasa.
Jadi malam ini kami habiskan disini menikmati suasana mall Pavilion yang ramai sekali dan suasana Natalnya terasa sekali disini. Kami balik lagi ke hotel naik Purple Line ke Pasar Seni nyambung LRT ke KL Sentral dan jalan kaki ke hotel.
First day done!

Day 2 ( Des 26)
Batu Caves, Petronas Twin Tower
Ke Batu Caves dari KL Sentral naik KTM Komuter, RM1.2
Ada masalah sedikit disini sewaktu kita sampai di Sta Batu Caves dan tap coin, pintu tidak terbuka. Lapor ke petugasnya dan dia tanya sewaktu kita di KL Sentral stasiun kita tap ngga, saya jawab tap dan dia cek ke mesinnya ternyata saya tidak tap dia marah banget. Marahnya Cina2 Melayu gimana sih…nyebelin banget dia bilang harus balik lagi ke KL Sentral tapi akhirnya bisa juga masuk setelah diomel-omelin dulu. Jadi sewaktu di stasiun KL Sentral kita masuk di pintu yang ngga ada palangnya jadi kita pikir ngga perlu tap coinnya karena tidak perlu.. Jadi seharusnya jangan dibukalah pintu itu:( Yah sutralah…pengalaman aja diomelin orang krn boong 🙂 akhirnya ngaku karena masih bingung heheheh!
Patung Dewa Murugan setinggi 42.7 meter katanya sih patung tertinggi di dunia adalah icon tempat ini selain beberapa gua.
Kira-kira satu jam kita menghabiskan waktu disini, naik tangga yang konon 1000 anak tangga tapi ternyata hanya 272 anak tangga.

Saya perhatikan di sini juga banyak sekali wisatawan yang datang, seperti di Pavilion mall semalam. Bahkan wisatawan mancanegara banyak yang melancong kesini. Saya langsung membandingkan dengan Jakarta, dimana tempat wisata di Jakarta dan sekitarnya hanya dipenuhi dengan penduduk lokal. Kalaupun ada wisatawan asing ya hanya beberapa orang saja. Di dalam komuter line saya duduk di sebelah seorang turis cowok muda asal Belanda, ngobrol2 dengan dia terus dia bilang sewaktu dia di Jakarta beberapa hari dia tinggalnya di daerah Jakarta Utara dan melihat banyak perumahan kumuh atau orang miskin yang dia tidak lihat di Kuala Lumpur. Ada perasaan sedikit malu tapi yahhh sudahlah….our country still growing anyway!

Dari Batu Caves tujuan kami selanjutnya adalah KLCC, Petronas Twin Tower. Dari KL Sentral dengan Kelana Jaya Line tiketnya RM1.3 ke KLCC. Gedung pencakar langit tertinggi di Kuala Lumpur 451.9m, sempat menjadi gedung tertinggi di dunia sebelum digeser oleh Burj Khalifa in Dubai (829.8m).

Day 3 Dec 27)
Georgetown, Penang
Mengapa ke Georgetown?
Karena Georgetown is kota yang dinobatkan Unesco World Cultural Heritage (7 Juli 2008). Pengen tahu aja, kayak apa sih kotanya George ini 🙂

Jam 7.30 pagi pagi kami check out dari hotel karena perjalanan cukup panjang ke Georgetown, Penang. Dari KL Sentral naik KTM komuter jalur biru tujuan akhir Seremban,  turun di Bandar Tasik Selatan(BTS). Tiket bus bisa langsung dibeli disini, saya pilih bus Plusliner dengan harga tiket RM35/orang kira-kira Rp 105 ribu kalau dirupiahkan. Bus yang seharusnya berangkat pukul 10.30 delay selama hampir 40 menit (kayak pesawat aja pake delay heheh) jadi bus baru sampai pukul 11.15 an. Perjalanan ke Butterworth ditempuh selama kuranglebih 5 jam. Dari Butterworth kita naik ferry untuk nyebrang ke Georgetown, ongkos ferrynya murah banget hanya RM1.2 kalau di rupiahkan 3500 rp saja.
Ada juga bus yang langsung ke Georgetown jadi tidak harus naik ferry lagi, tapi saya pengen tahu aja merasakan naik ferry disini perjalanan  hanya 15 menit saja.

Sampai di terminal bus dekat pelabuhan, bertanya-tanya sama petugas di terminal kalau mau ke Jl Kimberly naik bus nomor berapa. Penginapan kita terletak di JL Kuala Kangsar  jalan yang kecil jalan besarnya jalan Kimberly jadi saya pikir orang2 pasti lebih kenal jalan ini ketimbang jalan yang lebih kecil. Akhirnya kita mendapatkan informasi nama bus yang melewati jalan Kimberly Rapid Penang CAT, gratis lagi.

Setelah kira2 10 menit kita sampai di terminal Komtar, turun disini bingung lagi kita mau naik apa lagi. Mungkin karena melihat kita kebingungan seorang bapak menghampiri dan bertanya kalau kami mau kemana? Saya bilang nama hotel kita di jalan Kuala Kangsar, dia langsung arahkan naik lagi bus yang tadi kita naikin. Jadi naiklah lagi kita bus yang tadi dan saya kasih tahu ke supir bahwa kita mau turun di jalan Kimberly. Hanya kira-kira 5 menit bus jalan supir kasih tahu kita turun disini, jadi kita turun dan bertanya ke pemilik resto di pinggir jalan nama hotel kita dia mengarahkan tinggal lurus dan belok kanan.
Sambil berjalan ke arah hotel di kiri kanan jalan ada beberapa tempat pemotongan daging babi, daging utuh digantung berjejer sepanjang emperan toko. Hmmmm daerah pecinan ini rupanya, selain banyak juga toko-toko dan rumah makan milik warga Tionghoa.

Nah sewaktu kita sampai di hotel (baca homestay) ternyata kita sudah ditungguin sama penunggu hotel hehehhhh petugas sih atau pekerja. Jadi masuk-masuk kita langsung diarahkan ke kamar kita.
Pak Cik : “Silahkan silahkan your room is upstair”, sambil jalan di depan menunjukkan jalan. Me : “You don’t need the booking receipt?”
Pak Cik : “No, no. I know you are our last guests. You booked for four”.
Me: “But only three of us?”. Saya hanya pengen tahu aja kok dia percaya banget sih kalau kita tamunya. Biasanya mereka periksa dulu apa benar ini tamu yang ditunggu. Tapi mungkin karena homestay kecil ya tidak terlalu ribet proses check innya.
Nah lagi nih, kami menaiki tangga kayu yang sangat terawat untuk sampai ke kamar. jadi tangga kayu ini khusus untuk ke kamar kami. Dan sesampainya diatas tadaaaa….kamar ini super guede, family room dengan 4 tempat tidur. Meja besar seperti meja makan, seperangkat kursi meja seperti ruang tamu dan dua kamar mandi agak turun ke bawah. Wahhh really nice room and really gede! Plus pernak-pernik yang menarik seperti peninggalan jaman dulu tapi masih terawat baik.

Setelah beres-beres di kamar sebentar, kami langsung jalan ke heritage area sekitar Chinatown. Kami hanya tinggal semalam saja di Penang jadi harus mempergunakan waktu yang mepet ini sepadat mungkin. Dengan berjalan kaki dari hotel dan petunjuk dari Pak Cik petugas hotel kami menuju ke jalan Armenian/ Lebuh Armenian. Ada beberapa art street yang bisa dinikmati disini selain art shops sepanjang kiri kanan jalan. Beberapa seniman jalanan juga bisa kita jumpai di sini. Beberapa seniman yang saya lihat bukan hanya berasal dari Penang/Malaysia tapi juga beberapa seniman bule. Foto-foto sebentar di beberapa Street Arts, terus ke kuil Buddha (lupa namanya) dan karena hari sudah gelap kita berjalan balik lagi ke hotel sambil lewatin mesjid (lupa lagi namanya).

Sebelum sampai hotel kita makan dulu di restoran pinggir jalan yang  rame banget, saya pikir pasti makanannya enak nih. Bener juga, saya pilih bakmi yang ngga halal anak2 pilihannya bakmi ayam 🙂 Selesai makan kita langsung balik ke hotel yang ngga begitu jauh dari restoran ini.

Day 4 (Dec 28)
Georgetown-KL
Pagi-pagi selesai sarapan kita jalan kaki ke Gurney Drive, kira2 15-20 menit. Sebelumnya kita mampir di 3D Art Museum melewati gereja tua yang masih sangat terawat. Gereja berwarna putih di tengah-tengah lapangan rumput hijau yang asri, Saint George’s Anglican Church. Gereja peninggaalan Inggris yang merupakan salah satu bangunan tertua di Penang. Gereja ini dibangun pada tahun 1817 di desain oleh Kapten Robert Smith, seorang insinyur militer.Dari gereja ini kami meneruskan perjalanan ke pantai, Gurney Drive. Hanya berfoto sebentar sambil menikmati beberapa bangunan tua sepanjang kiri kanan jalan. Bangunan tua bergaya Eropa yang terletak di tepi pantai, menurut seorang teman yang penah tinggal di Penang itu adalah  City Hall nya Georgetown.

Setelah puas muter-muter di tengah teriknya matahari Georgetown, kami balik lagi ke hotel check out and back to Kuala Lumpur. Beli tiket busnya di Komtar yang tidak jauh dari hotel, kalau tidak salah harganya RM36 sekitar 100 an ribu rupiah. Cukup lama kami menunggu bus yang memang delay sekitar 1 jam. Akhirnya bus datang juga, kami dibawa ke terminal bus Sungai Nibong dulu sebelum berangkat ke KL.

Bersambung
KL 2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s