Exploring West Sumatra (Jelajah Sumatera Barat)

Hari 1:

Penerbangan dengan Lion Air dari bandar udara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Minangkabau International airport ditempuh selama 1 jam 20 menit. Pukul 10.00 kami sudah mendarat, tiba dengan selamat di bandar udara Minangkabau tapi karena salah satu teman kami, Lenny ketinggalan pesawat jadilah kami menunggu selama 2 jam sampai penerbangan berikutnya yang dari Jakarta tiba. Sambil menunggu Lenny tiba kami mengajak driver kami, uda Ari yang menjemput kami di airport untuk jalan2 sambil mencari sarapan di luar airport. Diantarlah kami ke rumah makan Lamun Ombak yang tidak jauh dari bandara. Kami sarapan disana dan sekalian minta dibungkusin buat makan siang biar nanti pas Lenny sampai kita tidak lagi buang2 waktu untuk cari makanan, mengingat perjalanan kami hari pertama yang padat dan cukup panjang.

IMG_1616
menu sarapan, ikan bakar maknyus

IMG_2410sarapan berat di RM Lamun Ombak

Selesai sarapan dan bekal makan siang sudah beres, kita balik lagi ke airport untuk jemput Lenny. Jam 12.00 siang pesawat yang di tumpangi Lenny mendarat, akhirnya ketemulah kita bertiga yang siap  explore Sumatera Barat. Lenny langsung ngomel2 deh sewaktu kita tanya ceritanya sampai ketinggalan pesawat. Memang pesawat kita berangkatnya 20 menit lebih awal dari jadwalnya, jadi Lenny yang tiba di airport memang agak terlambat sudah tidk bisa lagi check in. Singkat cerita Lenny akhirnya di bantu  salah satu petugas untuk mendapatkan tiket dengan separuh harga, lucky Lenny. This was the second time Lenny ketinggalan ‘kereta’ sewaktu ngetrip, pertama kalinya kita semua peserta trip Ijen Bromo ketinggalan kereta dari Stasiun Gambir tujuan Malang gara-gara hari itu macet luarbiasa. Akhirnya kita beli tiket bus Jakarta-Blitar karena bus ke Malang sudah tidak tersedia.

Anyway, perjalanan kita diawali dengan mengunjungi Danau Kembar atau Danau Atas Danau Bawah di Alahan Panjang Kabupaten Solok. Perjalanan dari airport di tempuh selama 2 jam 30 menit ke Danau Atas, kami sudah tidak melanjutkan ke Danau Bawah berhubung waktunya sudah terlalu sore dan perjalanan kita masih panjang. Sepanjang perjalanan kami kabut asap tipis terlihat dimana-mana, pengaruh kebakaran lahan gambut di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan terasa sekali di Sumatera Barat. Gunung dan bukit-bukit jarak tertentu tidak kelihatan yang kelihatan di kejauhan hanya kabut entah putih entah abu-abu.

IMG_1619
Kabut asap sepanjang jalan ke danau Kembar

IMG_1641Danau Atas

IMG_1682Danau Singkarak selayang pandang

Tujuan berikutnya Danau Singkarak, kami hanya turun sebentar untuk foto dan melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang. Tujuan kami berikutnya Lembah Anai, sudah terlalu gelap waktu kami sampai disini. Air terjunnya sudah tidak kelihatan jadi kami langsung putar balik kembali ke kota Padang Panjang. Sate Mak Syukur jadi pilihan untuk makan malam, penasaran menurut orang2 tempat ini lumayan terkenal. Seumur-umur saya sendiri tidak pernah makan sate Padang jadi sate padang keliatannya seperti apa juga saya tidak tahu. Nah waktu pesanan sate kami di taruh di meja oleh uda pelayan restoran, barulah saya tahu tampilan sate Padang itu seperti apa. Ternyata sate yang disiram kuah kental..iiiiihhhh. I don’t like it at all, untung selama ini saya tidak pernah tertarik untuk beli. Dalam bayangan saya sate itu harus kering, tidak berkuah apalagi kuah kental. Hmmm mungkin nanti saya harus coba lagi biar terbiasa siapa tahu nanti jadi suka.

IMG_1717IMG_1719 Sate Mak Syukur, Padang Panjang

Perjalanan ke Bukittinggi dari Padang Panjang malam itu kami tempuh selama kurang lebih 40 menit sampai di Hotel Treeli, Jl. Kesehatan Bukittingi. Setelah cek in dan menikmati welcome drink and snack di cafenya di lantai tiga kami turun ke kamar kami yang terletak di lantai dasar dekat resepsionis. Boutique hotel yang kecil mungil ini cukup asri, bersih dan menarik penataan interiornya. Termasuk kamar kami yang kira2 berukuran 3×4 meter dengan 2 bed kecil yang akhirnya kami jadikan satu biar muat untuk kami bertiga. Yang agak ‘mengganggu’ is kamar mandinya panjang berbentuk lorong dan sempit, tapi ok lah. Shower dengan air dingin dan panas, lengkap dengan handuk2 dan sabun and shampoo.Cukup lengkap untuk ukuran hotel bintang satu.

IMG_2146
our bedroom
IMG_2418
the hotel frontIMG_1728

IMG_2148 IMG_2154

Hari 2: Lembah Harau, kelok 9, Istana Pagaruyung, benteng Ford de Kock

IMG_1858 IMG_1777IMG_1731

Cukup panjang dan padat perjalanan kami hari ini: Pagi-pagi sebelum sarapan kami jalan-jalan ke jam Gadang dan kebetulan di depan jam Gadang ada kelompok lansia yang sedang senam pagi. Iseng2 saya ikutan senam dengan mereka, hitung2 olahraga mengingat dari kemarin kita kelamaan duduk di mobil dan mungkin sebentar juga akan lama duduk nantinya. Lumayan agak hangat setelah beberapa gerakan, kami permisi dan balik ke hotel setelah foto2 sebentar di Jam Gadang dan beli beberapa kaos T-Shirt.

Selesai sarapan di hotel, kami mampir dulu ke rumah kelahiran Bung Hatta di Jl. Soekarno-Hatta no 37. Bung Hatta lahir di rumah ini tanggal 12 Agustus 1902, ayahnya bernama H. Muhammad Djamil ibu bernama Saleha.

Rumah panggung berlantai dua yang juga sebagai museum berisi peninggalan2 keluarga Bung Hatta.IMG_1803IMG_1832IMG_1823ruangan di lantai atas museum Bung Hatta

Kira-kira setengah jam disini kamipun melanjutkan perjalanan  ke tujuan berikutnya, Kelok 9 di Payakumbuh. Tapi sebelumnya Uda Ari mengusulkan untuk sekalian belanja oleh2 khas Minang di Sinjai Ummi Aufa Hakim karena sekalian dilewati. Jadi mampirlah kami disini yang sudah penuh dengan pembeli dari Jakarta. Masing-masing kami Lenny, Christine dan saya belanja sekardus oleh2 keripik singkong pedas dll untuk dibawa pulang.

IMG_1853IMG_1854toko oleh-oleh

Perjalanan kami lanjutkan ke kelok 9 yang memakan waktu sekitar 1.5 jam perjalanan setelah melewati kota Payakumbuh. Beberapa tahun lalu Kelok 9 itu hanya berada di bayang2 saya, kapan ya saya melihat atau melewati langsung tempat ini. Nah bayang2 saya dulu sekarang ini sudah menjadi kenyataan akhirnya saya bisa mendatangi langsung tempat ini, walaupun agak terhalang dengan asap tipis yang membuat pemandangan sekitarnya tidak begitu jelas. Sayang sekali memang, tapi we still enjoy our trip lah.

IMG_1898IMG_1878

Kami menghabiskan waktu hanya sekitar 30 menit di tempat ini mengingat masih beberapa tempat lagi yang harus kami kunjungi hari itu. Perjalanan kami lanjutkan ke Lembah Harau yang tidak begitu jauh dari Kelok 9, kira2 30-40 menit perjalanan. Tapi sayang sekali karena musim kemarau yang berkepanjangan air terjun di Lembah Harau ini kering, beberapa air terjun tidak ada airnya sama sekali. Ada satu yang paling ujung yang ada warung2nya, ada sedikit airnya yang jatuh dari atas lembah walaupun kolam air dibawahnya tergenang air cukup banyak. Airnya bening banget, bikin kita jadi kepengen berenang, tapi instead of berenang kita hanya foto2 disitu.

IMG_1996IMG_1963

Rumah adat Minang yang ada di tengah Lembah Harau, cantik sekali.

O ya on the way ke Lembah Harau dari Kelok 9, kami melewati sebuah rumah bercat ungu di tengah sawah yang hijau, cantiknyo. The first time I spot this house, ” Uda berhenti sebentar”, kataku. “Kenapa?” Uda Ari balik nanya sambil minggirin mobilnya. “Rumah ungu di tengah sawah, ayo Tin turun”, kataku sambil turun langsung lari-lari ke arah rumah itu. Kitin ngikutin dari belakang, Lenny  dan uda Ari tinggal di mobil. Omaigat…klik klik klik sambil foto foto sebenarnya sambil nungguin siapa tahu yang punya rumah keluar. Aku ingin kenalan langsung ngobrol sebentar dengan yang punya rumah and actually I wonder how the owner look like. Pasti orangnya cocok dengan ku hahahh atau jangan jangan si ibu pemilik rumah itu mirip denganku. Habis, kok kita punya minat/ kesukaan yang sama ya: sebuah rumah mungil di tengah sawah. Rumahnya bercat ungu lagi, my favorite color kontras lagi dengan hijaunya padi di sekeliling rumah. Sayang sampe kita balik lagi ke mobil, tidak ada seorangpun yang menampakkan batang hidungnya. Yah mungkin aku harus balik lagi ya. Pokoknya aku harus ingat rumah itu letaknya tidak berapa jauh dari kelok 9, Lima Puluh Koto, Harau. Rumah impian saya nanti kalau saya pensiun, ingin tinggal di tempat seperti ini.

IMG_1937IMG_1935IMG_1943 rumah impiankoe

Dari Lembah Harau perjalanan kami lanjutkan menuju ke Istana Pagaruyung di Batusangkar. 1 jam 25 menit perjalanan ke Pagaruyung melewati kota Batusangkar mata kami di sejukkan dengan pemandangan sawah yang menghijau di kiri kanan jalan. Sambil sesekali diselingi dengan rumah2 bercat cerah di tengah2 sawah, kami terkagum2 dengan alam Minang yang mempesona ini. Indonesia memang indah, setiap daerah di Indonesia ini indahnya bervariasi. Kalau di Lombok dengan pantai-pantainya yang sangat indah, di Sumatera Utara dengan danau Tobanya yang mengagumkan, Belitong dengan danau Kaolin dan pantai dengan batu2 granitnya dan masih banyak lagi keindahan Indonesia yang tiada duanya.

Ok, Istano Basa Pagaruyuang yang pernah terbakar tahun 2007 dan sudah di bangun kembali letaknya di kecamatan Tanjung Emas kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Ternyato yang menyebabkan kebakaran rumah adat Minangkabau ini adalah petir yang menyambar di puncak istana, dan diperkirakan kerugian mencapai 20 miliar rupiah.

.IMG_2043 IMG_2021IMG_2046kito bertigo

Kami bertiga sempat mencoba pakaian adat Minang yang disewa Rp. 35.000 per set. Setelah puas foto2 dengan pakaian adat Minang, berhubung perut kami sudah keroncongan kami lanjut perjalanan untuk cari tempat mengisi perut. Saya ingat tempat makan di tengah sawah waktu kita baru menuju ke Batusangkar dari lembah Harau, ada dua tempat makan yang bersebelahan dipinggir jalan. Jadi menujulah kita ke tempat itu sekalian kita otw balik ke Bukittinggi. Saya lupa nama rumah makannya, tapi yang pasti rumah makan khas Padang. Kalau tidak salah namanya Rumah makan Pondok Flora, rumah makan di atas telaga yang banyak ikannya dengan beberapa angsa putih menghiasi telaga. Sungguh pemandangan yang cuma bisa didapatkan di pedesaan, indah  pake sekali kalau tanpa kabut asap.

IMG_2060IMG_2062Rumah Makan Pondok Flora

Melanjutkan perjalanan kembali ke Bukittinggi ditempuh selama 1.30 menit, kami langsung meluncur ke benteng Fort de Kock yang terletak di tengah kota Bukittinggi. Benteng Fort de Kock yang terletak di atas Bukit Jirek ini dulunya di gunakan oleh tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau. Didirikan pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock. Dari Benteng ini kami menyebrang jembatan Limpapeh untuk sampai ke kebun binatang.IMG_2082IMG_2075benteng Ford de Kock

Rencana kami untuk sekalian mengunjungi Ngarai Sianok hari ini di tunda sampai besok karena sudah tidak memungkinkan, sudah malam. Penasaran dengan ayam Pop yang katanya Bu Enny terkenal di Bukittinggi, menujulah kami kesana. Sewaktu kita tanya Uda Ari menurut dia ayam pop itu enak ngga? “Tergantung selera”, katanya Uda Ari. Yah daripada penasaran marilah kita mencobanya, dan ternyata tempat yang di tuju pas di depan pintu masuk Benteng Fort de Kock. Oh dan setelah kita masuk saya baru tahu kalau ternyata rumah makannya ya seperti rumah-rumah makan Padang pada umumnya dengan segala macam menu makanan yang di letakkan semua di atas meja. Salah satu menunya ya ayam pop itu…ooooohhhh. Walaupun penasaran dengan rasa ayam pop, saya sendiri sudah tidak makan malam itu karena makan siang kita tadi sudah kesorean perut terasa masih penuh. Saya hanya cicip ayam pop pesenan Kitin, lumayan rasanya berasa bumbunya.

IMG_2142Ayam pop

Rusa tutul di bonbin, rebutan kulit pisang

IMG_2130 IMG_2102Rumah adat Minang di dalam Bonbin

Kami kembali ke hotel beristirahat dan packing untuk persiapan pulang besoknya.

Day 3: Ngarai Sianok, The Great Wall, Kelok 44, Danau Maninjau and airport

Hari terakhir kami di Bukittinggi, setelah mandi, sarapan sambil ngobrol sebentar sama uni pelayan restoran and chefnya yang lumayan cakep yang masakannya lumayan enak uda siapa namanya aku lupa nanya. Menu sarapan di hotel mungil ini lumayan bervariasi, ada nasi goreng dengan teman2nya, bubur kacang hijau di hari pertama kami dan bubur sum-sum di hari kedua, roti dan teman2nya juga dan beberapa macam cereal. Sengaja saya makan agak kenyang biar bisa tahan sampe agak sore karena perjalanan kami yang lumayan panjang setiap hari. Kalau di hitung2 selama trip ini kami cuma makan 2x sehari, pengen makan malam cuma perut belum lapar jadilah skipped dinner hitung2 diet, diet apa berhemat heheheh.

IMG_2163IMG_2157sarapan di cafe hotel lantai tiga

Sesudah menyelesaikan pembayaran extra Rp 100.000 untuk tambahan satu orang plus breakfast, foto2, tas2 semua sudah dimasukkan ke mobil dan segala perintillannya kami menuju ke Ngarai Sianok. Tujuan pertama di hari terakhir ini, 5 menit dari hotel kami masuk ke Taman Wisata Panorama. Dari sini kita bisa melihat panorama Ngarai Sianok dari atas tebing, hamparan sawah di bawah yang dikelilingi tebing-tebing. Seharusnya pemandangan di Ngarai Sianok ini lebih indah dari yang kita lihat, tapi saat kami disana kabut asap tipis menyelimuti kota Bukittinggi dan sekitarnya bahkan seluruh Sumatera Barat.

IMG_2275
jembatan gantung yang mengarah ke the great wall
IMG_2075
Benteng Ford de Kock

Seharusnya pula kita bisa menikmati indahnya gunung Singgalang dan gunung Merapi dari tempat ini, tapi sayang sungguh disayang semua itu tidak bisa kita nikmati gara-gara si kabut asap itu. Dari Panorama kita keluar dan menuju ke The Great Wall of Koto Gadang, miniaturnya the great wall of China yang di Beijing kali ya…menurut info anak tangganya berjumlah 1000 anak tangga tapi aku ragu masak sih 1000 anak tangga. Nyesel juga kenapa aku ngga hitung biar ngga penasaran dengan angka 1000 katanya.

IMG_2165 IMG_2202Ngarai Sianok

IMG_2271IMG_2246IMG_2272the great wall

Perjalanan kami lanjutkan ke Danau Maninjau melewati Kelok 44. Dari Bukittinggi perjalanan ke Kelok 44/danau Maninjau ditempuh selama 1 jam. Melewati hijaunya sawah menyejukkan mata, beberapa tempat ada juga yang sudah menguning padinya.

IMG_2292IMG_2293IMG_2300Kelok 44IMG_2304kabut asap menutupi danau

Keindahan danau maninjau tidak bisa kami nikmati dari atas yang bisa di lihat hanya asap putih sejauh mata memandang, sayang sekali memang tapi dikata mau apa? ehh apa mau dikata….kabut asap dimana-mana. Sampai dibawah, di tepian danau setengah jam kemudian kami melewati kampung yang saya lupa namanya mungkin Maninjau? Saya dan Lenny sempat belanja ikan kering yang dijual di pinggir danau, apa namanya ikan bilih? ngga tau saya, cukup mahal juga harganya. Iseng sih saya belinya ikan bilih 1/4 kg harganya 45.000 sama ikan kecil2 yang sudah digoreng kering sebungkus Rp.20.000 kalau tidak salah namanya ikan Rinuak.

IMG_2329 Ikan bilih IMG_2357 PLTA Maninjau

IMG_2356

Pemancing ikan di Danau Maninjau, sayang kenapa dia ngga mancing hatinya Kitin aja yaaa…:)

IMG_2369Lenny enjoying the fresh Maninjau waterIMG_2374

Perjalanan dilanjutken ke Pariaman sekitar 1 jam 30 menit kami sampai di Kota Pariaman. Mampir sebentar di pantai Penyu  sebelum kami melanjutkan perjalanan lagi ke airport.

IMG_2395with uda Ari, pantai Penyu PariamanIMG_2382

Karena waktu masih memungkinkan plus belum sempat makan siang, sebelum ke airport kami mampir lagi ke Rumah makan Lamun Ombak. Sekalian ngenalin rumah makan ini ke Lenny, dia kan belum sempat kesini sewaktu aku dan Kittin beli sarapan di hari pertama itu. Tapi kali ini kami makan hanya bertiga dengan Uda Ari karena Lenny masih merasa cukup kenyang tadi di mobil sambil ngemal-ngemil segala macam soalnya. Lenny hanya sempat sholat, menunaikan kewajibannya sebagai muslimah yang taat 🙂

IMG_2379Penulis yang selalu narsis 😉

IMG_2412IMG_24263 hari penampakan menu ini terus

Penerbangan dengan Lion Air yang jadwalnya jam 5.40 pm seperti biasa delay selama satu jam, jadi kami berangkat sudah sekitar jam 7.00 malam. Sampai di Soekarno-Hatta airport dengan selamat dan dengan Damri bersama Lenny ke Lebak Bulus. Kitin sudah lebih dulu naik Damri jurusan Pasar Minggu. Sampai di Lebak Bulus aku di jemput ‘rombongan’ keluargaku lengkap, suami and anak-anakku ternyata mereka sudah kangen sama mamaknyo.

Terima kasih Tuhan Jesus untuk perjalanan yang sangat menyenangkan di Sumatera Barat, walaupun berkabut asap but we still enjoyed our trip. Mudah2an kabut asap segera hilang dari udara, segera turun hujan biar sumber api yang ada di Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, sebagian di pulau Jawa segera padam. Masyarakat yang terkena dampak dari kebakaran hutan bisa menikmati udara yang bersih lagi. Amin!

Terima kasih juga to my hubby for taking care of the teenagers, terima kasih kepada anak-anakku to behave really well when mamak was away. I love you so much..muachhhh 🙂

“When mamak happy, she will raise happy children “.

 

(Jakarta, Oct 24, 2015)

Advertisements

2 thoughts on “Exploring West Sumatra (Jelajah Sumatera Barat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s